Minggu, 14 September 2014

salam semangat

asslamualakum
salam semangat  selalu kepada seluruh sahabat-sahabat ku yang sedang melaksanakan tugas nya baik dalam kerja, kuliah maupun PPL.  ingat untuk selalu berdoa kepada Allah Swt agar dimudahkan segala urusan dan jalan menuju kesuskaesan.

Senin, 04 Februari 2013

Mengenal dan menghafal nama Malaikat dan Tugasnya


Mari Mengenal dan Menghafal
Nama-nama Malaikat dan Tugasnya

Malaikat adalah makhluk yang diciptakan allah yang memiliki tugas khusus. Iman kepada Malaikat Allah adalah rukun iman yang ke-2. Tentunya iman yang pertama adalah iman kepada Allah Swt. Iman kepada malaikat merupakan kewajiban kita sebagai umat muslim meskipun malaikat bersifat ghaib, tetapi keberadaanya harus kita yakini dan percaya bahwa malaikat itu ada. Allah menciptakan malaikat dari cahaya malaikat juga tidak seperti manusia, tidak berjenis kelamin pula.
Sebenarnya jumlah malaikat itu ada beribu-ribu, tetapi yang wajib kita imani hanya 10 saja yaitu sebagai berikut.
1.      Malaikat jibril bertugas menyampaikan wahyu kepada Rasul-rasul Allah
2.      Malaikat Mikail bertugas membagikan rezeki
3.      Malaikat Isrofil bertugas meniup sangkakala
4.      Malaikat ‘izrail bertugas mencabut nyawa
5.      Malaikat Raqib bertugas mencatat amal baik
6.      Malaikat ‘Atid bertugas mencatat amal buruk
7.      Malaikat Munkar bertugas  menanyai manusia di Alam kubur
8.      Malaikat Nakir bertugas menanyai manusia di alam kubur
9.      Malaikat Malik bertugas menjaga neraka
10.  Malaikat Ridwan bertugas menjaga syurga
Nah itulah nama-nama malaikat beserta tugas nya. untuk mempermudah menghafal bisa kita nyanyikan nama dan tugas malaikat tersebut seperti  berikut ini.
Tepuk Malaikat
Tepuk Malaikat ( tepuk 3x)
Jibril ( tepuk 3x) jaga wahyu
Mikail (tepuk 3x) bagi rezeki
Isrofil(tepuk 3x) tiup terompet
‘izrai(tepuk 3x )cabut nyawa
Raqib(tepuk 3x) catat amal baik
‘atid(tepuk 3x) catat  ama(tepuk 3x l buruk
Munkar – Nakir(tepuk 3x) menayai(tepuk 3x) manusia(tepuk 3x) di alam kubur
Malik(tepuk 3x) jaga neraka
Ridwan(tepuk 3x) jaga syurga

 Agar anak-anak lebih faham lagi tentang keberdaan Malaikat dan juga untuk mempermudah menghafal nama dan tugas malaikat marilah kita simak video berikut ini. 






Rabu, 30 Januari 2013

teori behavioristik



Pendahuluan

            Behaviorisme merupakan salah satu aliran psikologi yang meyakini bahwa untuk mengkaji perilaku individu harus dilakukan terhadap setiap aktivitas individu yang dapat diamati, bukan pada peristiwa hipotetis yang terjadi dalam diri individu.Oleh karena itu, penganut aliran behaviorisme menolak keras adanya aspek-aspek kesadaran atau mentalitas dalam individu.Pandangan ini sebetulnya sudah berlangsung lama sejak jaman Yunani Kuno, ketika psikologi masih dianggap bagian dari kajian filsafat. Namun kelahiran behaviorisme sebagai aliran psikologi formal diawali oleh J.B. Watson pada tahun 1913 yang menganggap psikologi sebagai bagian dari ilmu kealaman yang eksperimental dan obyektif, oleh sebab itu psikologi harus menggunakan metode empiris, seperti : observasi, conditioning, testing, dan verbal reports.
            Teori utama dari Watson yaitu konsep stimulus dan respons (S-R) dalam psikologi.Stimulus adalah segala sesuatu obyek yang bersumber dari lingkungan.Sedangkan respon adalah segala aktivitas sebagai jawaban terhadap stimulus, mulai dari tingkat sederhana hingga tingkat tinggi.Watson tidak mempercayai unsur herediter (keturunan) sebagai penentu perilaku dan perilaku manusia adalah hasil belajar sehingga unsur lingkungan sangat penting.Pemikiran Watson menjadi dasar bagi para penganut behaviorisme berikutnya.
            Dalam teori behaviorisme, ingin menganalisa hanya perilaku yang nampak saja, yang dapat diukur, dilukiskan, dan diramalkan. Teori kaum behavoris lebih dikenal dengan namateori belajar, karena seluruh perilaku manusia adalah hasil belajar. Belajar artinya perbahan perilaku organise sebagai pengaruh lingkungan. Behaviorisme tidak mau memperoalkan apakah manusia baik atau jelek, rasional atau emosional; behaviorisme hanya ingin mengetahui bagaimana perilakunya dikendalian oleh faktor-faktor lingkungan.Dalam arti teori belajar yang lebih menekankan pada tingkah laku manusia.Memandang individu sebagai makhluk reaktif yang memberirespon terhadap lingkungan. Pengalaman dan pemeliharaan akan membentuk perilaku mereka. Dari hal ini, timbulah konsep ”manusia mesin” (Homo Mechanicus). Ciri dari teori ini adalah mengutamakan unsur-unsur dan bagian kecil, bersifat mekanistis, menekankan peranan lingkungan, mementingkan pembentukan reaksi atau respon, menekankan pentingnya latihan, mementingkan mekanisme hasil belajar,mementingkan peranan kemampuan dan hasil belajar yang diperoleh adalah munculnya perilaku yang diinginkan.
Pada teori belajar ini sering disebut S-R psikologis artinya bahwa tingkah laku manusia dikendalikan oleh ganjaran atau reward dan penguatan atau reinforcement dari lingkungan. Dengan demikian dalam tingkah laku belajar terdapat jalinan yang erat antara reaksi-reaksi behavioural dengan stimulusnya.Guru yang menganut pandangan ini berpandapat bahwa tingkahlaku siswa merupakan reaksi terhadap lingkungan dan tingkahl laku adalah hasil belajar.
Prinsip-prinsip teori behaviorisme
- Obyek psikologi adalah tingkah laku
- semua bentuk tingkah laku di kembalikan pada reflek
- mementingkan pembentukan kebiasaan
            Perilaku manusia adalah suatu aktivitas manusia itu sendiri (Soekidjo,N,1993 : 55)
Secara operasional, perilaku dapat diartikan suatu respons organisme atau seseorang terhadap rangsangan dari luar subjek tersebut. (Soekidjo,N,1993 : 58)
Perilaku diartikan sebagai suatu aksi-reaksi organisme terhadap lingkungannya. Perilaku baru terjadi apabila ada sesuatu yang diperlukan untuk menimbulkan reaksi, yakni yang disebut rangsangan. Berarti rangsangan tertentu akan menghasilkan reaksi atau perilaku tertentu. (Notoatmojo,S, 1997 : 60)
            Perilaku adalah tindakan atau perilaku suatu organisme yang dapat diamati dan bahkan dapat di pelajari. (Robert Kwik, 1974, sebagaimana dikutip oleh Notoatmojo,S 1997)
Perilaku manusia pada hakikatnya adalah proses interaksi individu dengan lingkungannya sebagai manifestasi hayati bahwa dia adalah makhluk hidup. (Sri Kusmiyati dan Desminiarti, 1990 : 1) Perilaku manusia adalah aktivitas yang timbul karena adanya stimulus dan respons serta dapat diamati secara langsung maupun tidak langsung. (Sunaryo, 2004 : 3)













Landasan Teori

Pelopor aliran behaviorisme ini adalah John Broadus Watson.Melalui studi eksperimental, Watson menjelaskan konsep kepribadian dengan mempelajari tingkah laku manusia yang mengacu pada konsep stimulus – respons.
Aliran behaviorisme ini menolak pandangan dari aliran pendahulunya, yaitu aliran psikoanalisa yang memandang bahwa manusia sangat dipengaruhi oleh insting tak sadar dan dorongan-dorongan nafsu rendah.Aliran behaviorisme ini lebih memandang aspek stimulasi lingkungan yang dapat membentuk perilaku manusia dengan sesuka hati lingkungan eksternal itu.Aliaran behaviorisme ini mengganti konsep kesadaran dan ketidaksadaran ala psikoanalisa dengan istilah stimulus, response, dan habit.Stimulus selanjutnya dimaknakan sebagai sesuatu yang dapat dimanipulasi atau direkayasa lingkungan sebagai upaya membentuk perilaku manusia melalui respons yang muncul sebagaimana yang diharapkan lingkungan, sedangkan habit adalah hasil pembentukan perilaku tersebut (Koesma, 2000: 56).
Pandangan Watson ini banyak dipengaruhi oleh pendapat Ivan Pavlov, seorang ahli faal dari Rusia tentang conditioned response dalam classical conditioning (pembiasaan klasik). Ivan Pavlov ini mengadakan eksperimen dengan menggunakan seekor anjing.Anjing dikerangkeng dan setiap saat tertentu diperdengarkan bunyi bel disertai penaburan bubuk daging ke dalam mulutnya.Respon anjing adalah berupa keluarnya air liur dari mulutnya.Perlakuan ini diulangi berkali-kali dan lama kelamaan penaburan bubuk dihilangkan, tetapi bunyi bel tetap diperdengarkan.Meskipun bubuk daging tidak lagi ditaburkan ternyata setiap mendengar bunyi bel, anjing tersebut tetap mengeluarkan air liur dari mulutnya (Hamid, 2002: 35).
Kesimpulan yang diambil oleh Pavlov berdasarkan eksperimen tersebut adalah bahwa suatu stimulus akan menimbulkan respons tertentu apabila stimulus itu sering diberikan bersamaan dengan stimulus lain yang secara alamiah menimbulkan respons tersebut. Dalam hal ini perubahan perilaku terjadi karena adanya asosiasi antara kedua stimulus tersebut.

Proses S-R ini sendiri terdiri dari beberapa unsur, yaitu:
a.     Dorongan (drive) merasakan adanya kebutuhan akan sesuatu sehingga terdorong untuk memenuhi kebutuhan.
b.    Rangsangan (stimulus)pemberian stimulus menyebabkan timbulnya respons.
c.     Respons (reaksi) memberikan reaksi terhadap stimulus yang diterimanya dengan jalan melakukan sesuatu yang terlihat.
d.    Penguatan (reinforcement) Diantara keyakinan prinsipal yang terdapat dalam teori behavioristik adalah setiap anak manusia lahir tanpa warisan kecerdasan, warisan bakat, warisan perasaan, dan warisan abstrak lainnya. Semua kecakapan, kecerdasan, dan bahkan perasaan baru timbul setelah manusia melakukan kontak dengan alam sekitar, terutama alam pendidikan.Artinya, seorang individu manusia bisa pintar, terampil, dan berperasaan hanya bergantung pada bagaimana individu itu dididik.
            Keyakinan prinsipal lainnya yang dianut oleh para behavioris adalah peranan refleks, yakni reaksi jasmaniah yang dianggap tidak memerlukan kesadaran mental.Apapun yang dilakukan oleh manusia, termasuk kegiatan belajar adalah kegiatan refleks belaka, yaitu reaksi manusia atas rangsangan-rangsangan yang ada. Refleks-refleks ini jika dilatih akan menjadi keterampilan-keterampilan dan kebiasaan-kebiasaan yang dikuasai manusia. Jadi, peristiwa belajar seorang peserta didik menurut para behavioris adalah peristiwa melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan . Hal ini berarti proses belajar menurut behaviorisme lebih dianggap sebagai suatu proses yang bersifak mekanik dan otomatik tanpa membicarakan apa yang terjadi dalam diri peserta didik selama dalam proses belajar .
Beberapa teori yang termasuk kategori aliran behaviorisme adalah koneksionisme, pembiasaan klasik (classical conditioning), pembiasaan perilaku respons (operant conditioning).
1)      Koneksionisme
Tokoh paling terkenal dari teori koneksionisme adalah Edward Lee Thorndike.Koneksionisme merupakan teori paling awal dari rumpun behaviorisme. Menurut teori ini tingkah laku manusia tidak lain dari suatu hubungan antara stimulus-respons.




2)      Teori Pembiasaan Klasik (Classical Conditioning)
Teori pembiasaan klasik (classical conditioning) ini berkembang berdasarkan hasil eksperimen yang dilakukan oleh Ivan Pavlov (1849-1936) sebagaimana telah diuraikan di awal.
            Berdasarkan eksperimen dengan menggunakan anjing, Pavlov menyimpulkan bahwa untuk membentuk tingkah laku tertentu harus dilakukan secara berulang-ulang dengan melakukan pengkondisian tertentu.Pengkondisian itu adalah dengan melakukan semacam pancingan dengan sesuatu yang dapat menumbuhkan tingkah laku itu (Sanjaya, 2006: 116). Hal ini dikarenakan classical conditioning adalah sebuah prosedur penciptaan refleks baru dengan cara mendatangkan stimulus sebelum terjadinya refleks tersebut (Syah, 1999: 106). Teori ini disebut classical karena yang mengawali nama teori ini untuk menghargai karya Ivan Pavlov yang paling pertama di bidang conditioning (upaya pembiasaan) serta untuk membedakan dari teori conditioning lainnya (Djaali, 2007: 85).
3)      Teori Pembiasaan Perilaku Respons (Operant Conditioning)
Teori pembiasaan perilaku respons (operant conditioning) ini merupakan teori belajar yang berusia paling muda dan masih sangat berpengaruh di kalangan ahli psikogi masa kini. Penciptanya bernama Burrhus Frederic Skinner .
Skinner memulai penemuan teori belajarnya dengan kepercayaannya bahwa prinsip-prinsip kondisioning klasik hanya sebagian kecil dari perilaku yang bisa dipelajari.Banyak perilaku manusia adalah operant, bukan responden. Kondisioning klasik hanya menjelaskan bagaimana perilaku yang ada dipasangkan dengan rangsangan atau stimulus baru, tetapi tidak menjelaskan bagaimana perilaku operant baru dicapai .
            Operant adalah sejumlah perilaku atau respons yang membawa efek yang sama terhadap lingkungan yang dekat. Tidak seperti dalam respondent conditioning (yang responsnya didatangkan oleh stimulus tertentu), respons dalam operant conditioning terjadi tanpa didahului oleh stimulus, melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforcer (perangsang/hadiah).
            Reinforcer ini sendiri seseungguhnya adalah stimulus yang meningkatkan kemungkinan timbulnya sejumlah respons tertentu, namun tidak sengaja diadakan sebagai pasangan stimulus lainnya seperti dalam classical conditioning.



Fokus Penelitian

            Jika teori pembiasaan perilaku respons (operant conditioning) ini merupakan teori belajar yang berusia paling muda dan masih sangat berpengaruh di kalangan ahli psikogi masa kini.
            Setelah kita mengamati begitu banyaknya teori-teori yang membahas tentang behaviorlistik, dengan pengetahuan bermasyarakatnya, dengan toleransinya serta rasa kasih syang dan saling mengahargai sesame makhluk ciptaanya.
            Hubungan individu dengan lingkungannya ternyata tidak hanya berjalan sebelah, dalam arti hanya lingkungan saja yang mempunyai pengaruh terhadap individu. Pengaruh lingkungan sosial, bail primer maupun sekunder sangat komplek dalam perkembangan individu, hal ini secara mendalam akan  menjadi pembahasan.
















Pembahasan

Teori-teori utama skinner (weiten 1992) adalah sebagai berikut :
1)      Tipe respond dan kondisioning
Untuk memahami teori skinner harus diperhatikan pandangan.a tentang tipe respond dan tipe kondisioning. Ada 2 jenis respond pada organisme yaitu :
a.      Respondent Behavior, yaitu respond yang diperoleh atau dibangkitkan oleh adanya stimulus. Contoh : Menyempitkan mata jika ada sinar tajam, keluarnya air ludah kalau ada makanan, dan sebagainya.
b.      Operant Behavior, yaitu perilaku yang dikeluarkan tanpa adanya stimulus yang jelas sebagian besar perilaku manusia adalah behavior. Perilaku ini disebabkan karena adanya stimulasi sebelumnya.
Sesuai dengan 2 jenis respond, skinner mengemukakan 2 jenis kondisioning :
a.      Tipe S, yaitu kondisioning untuk respond dan behavior karena reinforcement dikaitkan dengan stimulus. Stimulus yang hendak dikondisikan (missal sinar atau bel) dikaitkan stimulus tak terkondisi (missal makanan)
b.      Tipe R, yaitu kondisioning untuk operant behavior. Huruf R dimaksudkan untuk menekankan pentingnya respond dalam rangka mendatangkan reinforcement. Pandangan skinner tentang kondisioning operan behavior ini sesuai dengan pandangan Thorndike tentang law off effect. Jadi reinforcement tergantung pada apa yang dilakukan oleh organisme.
            Ada 2 prinsip kondidioning respond operan (dari kata latin operate = melakukan), yaitu (1) setiap respond yang diikuti dengan stimulus penguat (reward) cenderung diulang, dan (2) setiap penguat (reward) adalah segala sesuatu yang dapat meningkatkan dan dimunculkannya respond operan. Dari 2 prinsip ini Nampak bahwa datangnya penguat tergantung pada perilaku yang ditunjukkan oleh organisme. Istilah yang digunakan untuk menyebut ketergantungan penguat respond ini adalah contingent reinforcement :
2)      Jenis-jenis penguatan ( reinforcement)
Skinner menerangkan penguatan berdasarkan dampaknya untuk meningkatkan atau menguatkan dorongan untuk dialkukannya suatu respond. Ada 2 jenis reinforcement :
a.      Reinforcement positif, yaitu stimulus yang pemberiannya terhadap operan behavior menyebabkan perilaku tersebut akan semakin diperkuat atau dipersering permunculannya. Dampaknya adalah menyenangan, misalnya makanan, minuman, dsb.
b.      Reinforcement negative, yaitu stimulus yang penghilkangnya untuk stimulus-stimulus yang tidak menyenangkan akan menyebabkan diperkuat atau diperseringnya perialku. Stimulus yang tidak menyenangkan disebut juga dengan istilah aversive stimulus. Di dalam reinforcement negative ini stimulus yang tidak menyenangkan akan dihilangkan sehingga orang melakukan perilaku yang diinginkan 
            Berdasarkan kedekatannya dengan objek yang dapat memuaskan kebutuhan, membedakan beberapa penguat (reinforcer) yaitu:
a.      Primary reinforce yaitu penguat yang secara langsung berkaitan dengan pemenuhan organisme, seperti makanan, minuman, dan sebagainya.
b.      Secondary reinforce adalah setiap stimulus netral yang dikaitkan dengan penguat primer sehingga mempunyai kualitas penguat primer. Ini erat kaitannya dengan discriminative stimulus (stimulus pembeda) yang mengawali datangnya penguat primer. Stimulus tersebut akan dijelaskan para pembentukan perilaku.
c.       Generalized reinforce adalah penguat sekunder yang berkaitan dengan lebih dari satu penguat primer. Misalnya uang. Kalau organisme lapar, ia akan membutuhkan makana, minuman, namun dengan uang, individu dapat membeli nasi, mie, roti, air, susu, es, the dll.
3)      Pembentukan perilaku dan perilaku berantai
            Dalam melatih suatu perilaku, skinner mengmukakan istilah shaping, yaitu upaya secara bertahap untuk membentuk perilaku, mulai dari betuk paling sederhana (elementer) sampai bentuk yang paling kompleks. Terdapat 2 unsur dalam pengertian shaping :
a.      Adanya penguat secara berbeda-beda (differential reinforcement), yaitu ada respon yang diberi penguatan da nada respon yang tidak diberi penguatan.
b.      Successive approximation (upaya mendekat terus-menerus) yang menagcu pada pengertian bahwa hanya respon yang sesuai denga harapan eksperimenter yang diberi penguat.
4)      Penjadwalan reinforcement
            Pembentukan perilaku dan daya tahan perilaku sangat ditentukan oleh penjadwalan dalam pemberian reinforcement:
a.      Penguatan terus menerus (continuous), yaitu pemberian penguatan  setiap kali perilaku yang benar diperbuat oleh individu.
b.      Pemberian tidak secara terus menerus (intermitten reinforcement), yaitu pemberian penguatan hanya pada saat-saat tertentu (yang diperhatikan adalah soal waktu), dan hanya pada jumlah tertentu(yang diperhatikan hanyalah jumlah perilaku).
            Berdasarkan unsur waktu dan unsur jumlah perilaku seperti tersebut, dikenal beberapa penjadwalan:
a)      Waktu dan jumlah tetap
1.      Penguatan dalam waktu teta, yaitu merupakan penguatan dalam jangka waktu tertentu secara tetap dan teratur misalnya seminggu sekali.
2.      Penguatan dalam jumlah tetap, yaitu pemberian penguatan setelah dilakukannya respo benar dalam jumlah tertentu dan tetap.
b)      Waktu dan jumlah berubah-ubah
1.      Penguatan dalam waktu berubah-ubah, yaitu pemberian penguatan dalam jangka waktu yang berubah-ubah.
2.      Penguatan dalam jumlah berubah-ubah, yaitu pemberian penguatan setelah dilakukan respon benar dalam jumlah yang berubah-ubah.
            Faktor eksogen ialah merupakan factor yang dating dari luar diri individu, merupakan pengalaman-pengalaman, alam sekitar, pendidikan dan sebagainya yaitu yang sering dikemukakan dengan pengertian “milieu”. Pengaruh pendidikan dan pengaruh lingkungan sekitar itu sebenarnya terdapat perbedaan.Pada umumnya pengaruh lingkungan bersifat pasif, dalam arti bahwa lingkungan tidak memberikan suatu paksaan kepada individu.Lingkungan tidak memberikan kemungkinan-kemungkinan atau kesempatan-kesempatan kepada individu.Bagaimana individu mengambil manfaat dari kesempatan yang diberikan oleh lingkungan tergantung kepada individu yang bersangkutan. Tidak demikian halya dengan pendidikan .
            Pendidikan dijalankan dengan penuh kesdaran dan dengan secra sistematik untuk mengembangkan potensi-potensi ataupun bakat-bakat yang adapada individu sesuai dengan cita-cita atau tujuan pendididkan.Dengan demikian pendidikan itu bersifat aktif, penuh tanggung jawab dan ingin mengarahkan perkembangan individu ke suatu tujuan tertentu.Sekalipun pengaruh lingkungan tidak bersifat memaksa, namun tidak dapat diingkari bahwa peranan lingkungan cukup besar dalam perkembangan individu. Lingkungan secara garis besar dapat dibedakan :
1)      Lingkungan fisik, yaitu lingkungan yang berupa alam, misalnya keadaan tanah, keadaan musim dan sebagainya. Lingkungan alam yang berbeda akan memberikan pengaruh yang berbeda puyla kepada individu. Misalnya: daerah pegunungan akanmemberikan pengaruh yang lain bila dibandingkan dengan daerah pantai. Daerah yang mempunyai musim dingin akan memberikan pengaruh yang berbeda dengan daerah yang mempunyai musim panas.
2)      Lingkunagn social, yaiyu merupakan lingkungan masyarakat, di mana dalam lingkungan masyarakat ini ada interaksi individu satu dengan individu lain. Keadaan masyarakat pun akan memberikan pengaruh tertentu terhadap perkembangan individu.    
Lingkungan sosial ini biasanya dibedakan :
a.      Lingkungan social primer, yaitu lingkungan social dimana terdapat hubungan yang erat anatara anggota satu dengan anggota yang lain, anggota satu saling kenal mengenal dengan baik dengan anggota yang lain. Oleh karena diantara anggota telah ada hubungan yang erat, maka sudah tentu pengaruh dari lingkungan social ini akan lebih mendalam bila dibandingkan dengan lingkungan sosial yang berhubungan tidak erat.  Keluarga merupakan factor utama yang sangat penting dalam perkembangan kepribadiaan seorang karena 1) keluarga merupakan kelompok sosial pertama dengan siapa seorang mengidentifikasikan diri (bermula sejak kanak-kanak), 2) keluarga merupakan tempat sesorang mengahabiskan waktunya paling banyak dibandingkan dengan kelomok sosial lain.
b.      Lingkungan sosial sekunder, yaitu lingkunga sosial yang berhubungan anggota satu dengan anggota yang lain agak longgar. Pada umumnya anggota satu dengan anggota lainnya kurang atau tidak saling kenal-mengenal. Karena itu pengaruh lingkungan sosial sekunder akan kurang mendalam bila dibandingkan dengan pengaruh lingkungan sosial primer. Sebagai contoh pengaruh budaya, sesungguhnya pada setiap budaya seseorang mengalami tekanan untuk mengembangkan suatu pola kepribadian yang sesuai dengan standar yang ditentukan budayanya. Kelompok budaya menetapkan muntuk pola kepribadiaan yang disetujui dan menekan individu-individu yang tergabung di dalamnya untuk berperilaku sesuai dengan norma budaya yang bersangkutan. Karena tekanan tersebut, individu akhirnya akan menyesuaikan diri mengikuti pola perilaku yang telah ditetapkan kelompok budaya dan pada akhirnya perilaku tersebut menetap menjadi kecenderungan pola perilaku individu. Miasalnya dalam budaya timur seseorang dilatih untuk mengembangkan pola kepribadian yang bercirikan loyalitas, kerjasama, pengorbanan, diri dan peran seseorang dalam hidup yang sering tidak realistis. Sedangkan dalam budaya barat yang lebih berorientasi ke individu sesorang akan menjadi lebih egosentris, lebih memperhatikan kemandirian dan hak mereka serta lebih mengutamakan kepentingan sendiri daripada orang lain.
            Hububunga antara individu dengan lingkungannya terdapat hubungan yang saling timbal balik, yaitu lingkungan dapat mempengaruhi individu, tetapi sebaliknya individu juga dapat mempengaruhi lingkungan. Bagaimana sikap individu terhadap lingkungan dapat dikemukakan sbb :
1)      Individu menolak atau menentang lingkungan.
Dalam keadaan ini lingkungan ridak sesuai dengan yang ada dalam diri individu. Dalam keadaan ytang tidak sesuia dengan individu ini dapat memberikan bentuk atau perubahan lingkungan seperti yang dikehendakai oleh individu yang versangkutan. Misalnya akibat banjir sebagian jalan terputus. Untuk mengatasi ini dibuat tanggul untuk melawan pengaruh dari lingkungan itu, sehingga orang tidak menerima begitu saja.
2)      Individu menerima lingkungan.
Dalam hal ini keadaan sesuai atau sejalan dengan yang ada dalam diri individu. Denga demikian individu akan menerima lingkungan itu.
3)      Individu bersikap netral.
Dalam hal ini individu tidak menerima tetapi juga tidak menolak individu dalam keadaan ‘status quo’ terhadap lingkungan.























Kesimpulan

            Dalam teori behaviorisme, ingin menganalisa hanya perilaku yang nampak saja, yang dapat diukur, dilukiskan, dan diramalkan. Teori kaum behavoris lebih dikenal dengan nama teori belajar, karena seluruh perilaku manusia adalah hasil belajar. Belajar artinya perbahan perilaku organise sebagai pengaruh lingkungan. Behaviorisme tidak mau memperoalkan apakah manusia baik atau jelek, rasional atau emosional; behaviorisme hanya ingin mengetahui bagaimana perilakunya dikendalian oleh faktor-faktor lingkungan. Dalam arti teori belajar yang lebih menekankan pada tingkah laku manusia. Memandang individu sebagai makhluk reaktif yang memberirespon terhadap lingkungan. Pengalaman dan pemeliharaan akan membentuk perilaku mereka. Dari hal ini, timbulah konsep ”manusia mesin” (Homo Mechanicus). Ciri dari teori ini adalah mengutamakan unsur-unsur dan bagian kecil, bersifat mekanistis, menekankan peranan lingkungan, mementingkan pembentukan reaksi atau respon, menekankan pentingnya latihan, mementingkan mekanisme hasil belajar,mementingkan peranan kemampuan dan hasil belajar yang diperoleh adalah munculnya perilaku yang diinginkan.